Meski berakhir dengan kesan yang kurang mengenakkan, di sisi lain dampak positif dari pernahnya bekerja disana telah banyak terasa. Tentu hal yang mengecewakan adalah dari segi birokrasinya yang kurang menghargai keberadaan pekerja yang sudah berkontribusi positif terhadap pencapaian perusahaan. Tak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh yang Maha Mengatur. Yang sungguh saya syukuri adalah pernah bertemu teman-teman super yang sangat apresiatif satu sama lain sehingga tingkat percaya diri saya ketika bekerja disana meningkat drastis.
Showing posts with label hikmah. Show all posts
posted by Redblack Ophie on hikmah, jakarta, karisma, pengalaman kerja, percaya diri
Bukan cuma saya yang menyadari perubahan perilaku saya yang awalnya pemalu menjadi orang yang lebih supel, percaya diri, dan lebih penyabar. Semua yang pernah kenal saya sebelum saya bekerja, berkata demikian. Termasuk dia, yang sekarang jadi orang spesial di hati saya. ^^
Alhamdulillah, disana pekerjaan saya sesuai dengan jurusan kuliah dulu. Dan saya memang orang yang cepat mengerti dengan apa yang saya pelajari. Saya bisa mempertanggungjawabkan itu. Dan sudah saya buktikan disana. Kesan dan pesan mereka ketika farewell tentang saya, begitu. Mereka bilang kemampuan saya selangkah di depan di antara teman-teman sebaya saya yang lain. Sehingga pun, atasan saya meminta saya membuatkan beberapa tutorial semacam modul belajar yang mudah dimengerti oleh teman-teman yang lain. Peninggalan jejak saya disana cukup 'terlihat', dan tentu pengunduran diri saya disana membuat mereka kehilangan satu bibit unggul yang cukup bisa diandalkan. Sekali lagi, bukan saya sombong, hanya saja itu kenyataan. Hehe
Tingkat PD saya tak mungkin meningkat drastis tanpa dukungan teman-teman disana. Senior-senior yang selalu mengapresiasi dan percaya dengan kemampuan saya, sangat memperlakukan saya dengan baik, dan menganggap saya adik paling kecil. Hihihiii
Di minggu-minggu awal bekerja, saya pun kenal dengan 2 cowok yang masuknya bareng dengan saya. 2 makhluk ini jadi sohib saya dari awal masuk, jadi teman main, teman curhat, teman apapun lah hehe. Baik banget. Sekitaran 3 bulan awal, saya dan 2 makhluk ini bekerja dalam satu proyek. Makanya kita jadi akrab banget. Salah satu yang membuat saya jadi lebih penyabar adalah karena saya berada di antara cowok-cowok. Yang kalau bercanda, gak pake hati. Padahal kalau cewek uda nyelekit gitu deh. Cuma yaaa dibiasain aja lah. Hahaha.
Proyek kedua saya bersama dengan 2 orang senior cowok. Orangnya baik banget, ngalahan banget, dan saya benar-benar merasa punya 2 kakak cowok yang care banget sama adeknya, hehe. 2 senior ini sangat percaya dengan kemampuan saya, dan benar-benar membuat tingkat percaya diri saya melonjak drastis. Thanks a lot, Big Brother! ^^ You were contributed to change my personality. ^^
Proyek ketiga saya adalah proyek internal kantor. Disini saya dipasangkan dengan seorang senior cowok yang rada serem kelihatannya, tapi ternyata care bangeeeeetttt dan nganggap saya kayak adek kecil. Hehe. Disini senior ini juga sangat apresiatif dengan kemampuan saya. ^^
Dan dampak positif dari pernahnya bekerja disana, telah terasa sekarang. Disini saya lebih percaya diri untuk mengatur bawahan. Walau di minggu awal saya sempat menangis, karena memang mengatur bawahan itu sangat sulit. Dan setelah 2 bulan, saya sudah akrab dengan bawahan-bawahan disini. Kita sudah sering tertawa bareng. Di sisi lain, saya tidak kehilangan rasa hormat dari mereka.
Tempat saya bekerja dulu, tak bisa lah saya tak ucapkan terima kasih. Karena berkatnya, saya jadi lebih berkarisma. Haha.
Terima kasih, kantor saya yang dulu. ^^
posted by Redblack Ophie on hikmah, jakarta, kerja, kost, pribadi, syukur
Marhaban Yaa Ramadhan~
Alhamdulillah bisa dipertemukan lagi dengan bulan suci penuh pengampunan ini. Semoga ibadah kita berkah ^^.
Sudah 5, 6, 7. Kurang lebih 7 bulan berjalan semenjak pertama tinggal di ibukota ini. Mengais rejeki, ceileh. Yap, rejeki saya untuk setahun ini memang disini, Jakarta. Alhamdulillah.
Suka duka pastilah ya, perbandingannya, hmmm suka : duka = 70 : 30. Yang membuat saya senang adalah memiliki penghasilan sendiri. Bayar kos sendiri, beli makan pakai uang sendiri, jalan-jalan, belanja pakai uang sendiri. Yang sebelumnya selama 22 tahun masih dibiayai ortu. Yang jelas ini karena ortu yang sudah menyekolahkan saya dengan baik. Alhamdulillah. Selain itu saya juga memiliki lingkungan kerja yang baik, dan teman-teman kost yang sangat baik. Area perumahan kost yang sangat aman dan menyenangkan. Alhamdulillah.
Saya bilang kost saya menyenangkan, tapi kenapa judulnya koq 'Galau Kost-kostan'?
Sebenarnya saya sangat beruntung dengan kost yang sekarang. Nyaman, aman, terbilang murah, dan penghuni yang sudah Allah pilihkan untuk saya itu sumpah baiknya. Tapi... lokasi kost saya tidak begitu dekat dengan kantor. Terlebih harus melewati palang rel yang setiap 2-5 menit sekali pasti ada aja kereta yang lewat. Lelahnya menunggu di palang rel yang macet dan panas-panasan itu sungguh sangat menguji kesabaran. Macetnya membuat saya harus menunggu sampai 2-3 kali palang buka tutup baru bisa jalan dengan lancar.
Saya bilang kost saya jauh, kenapa sejak awal memilih yang jauh?
Dulu waktu saya diterima kerja, katanya, saya mau ditempatkan bukan di kantor yang sekarang, tapi yang satunya. Yang jaraknya lebih deket dari kost-an saya dan gak perlu melewati palang kereta terutama. Karena waktu itu h-1 kerja baru ke Jkt, ya udah langsung tinggal disitu aja. Hari pertama dan kedua masih diantar-jemput. Fine! Setelah itu beberapa bulan masih dengan polosnya menjalankan hari-hari melewati rel kereta. Sekarang baru kerasa kerja udah mulai berat. Kudunya tidak perlu melelahkan diri di jalanan. Cukup di kantor saja, Beib.
Kost-kostan kan banyak, tapi kenapa gak cepet pindah?
As we all know, kost-kostan di Jkt itu entah mengapa mahalnya minta ampun. Yang biasa aja pasarannya 600-800an per bulan. Mungkin karena saya dulu kuliahnya di Surabaya, harga kost saya cuma 350rb per bulan. Dengan fasilitas yang biasa tapi sudah menyenangkan. Hmmmmm... Saya pernah mengeluhkan biaya hidup di Jkt sungguh mahalnya, lalu disaut oleh salah satu senior saya. "Mungkin karena pendapatan per kapita-nya lebih tinggi." Oya? Sampai sekarang saya masih belum paham, karena pendapatan yang tinggi kah yang membuat biaya hidup tinggi? Atau biaya hidup tinggi yang memaksa standar pendapatan menjadi tinggi? Yang menentukan batas bawah iki sopo seh sakjane, Pakde?
Saya pusing memilih kost-kostan. Terakhir saya survei, daerah deket kantor, yang daerahnya enak, harganya 1.6, itu pun cuma kipas angin, bukan AC, ya memang sih kamar mandinya di dalam. Tapi mahal bingo lah itu, Pakde. Tapi sebenarnya jarak kost-kostan itu mengefisiensikan waktu terbuang di jalan. Itu aset yang sangat bernilai. Dan harusnya kita rela bayar mahal untuk memanjakan diri. Yayayayyayaa.. Tapi itu kemahalan.
Lalu yang kedua, saya disarankan sama senior nih, ke kost-annya Mbak I yang dulu aja, banyak tempat makan. Terus saya survey di internet dan tanya melalui sms ke CP nya. Murah sih. Kurang lebih sama kost saya yang sekarang, tapi tetep murahan kost saya yang sekarang hehehe. Hampir nih mau survey ke tempatnya langsung, tapi sebelumnya nanya dulu ke Mbak I. Kata Mbak I tempatnya gak recommended. Penghuninya attitude-nya kurang baik. Jadi kurang nyaman ditempati. Waduh mendengar demikian, saya jadi merasa bersyukur ni ngekost di tempat yang sekarang.
Di tengah-tengah lagi nyari kost deket kantor, si Mbak yang punya kamar di sebelah kamar saya, ngajak pindah kost ke gang sebelah yang kamarnya lebih besar. Yang punya kost sih sama, cuma baru bangun kost-an baru aja di gang sebelah. Alamak! Karena saya orangnya sedikit gak enakan, saya bilang aja iya nanti dilihat dulu ya, Mbak.
Entah apa entah kenapa. Apasih? Saya hanya berprasangka baik pada Allah. Mungkin ini petunjuk. Lingkungan tempat tinggal disini sudah sangat baik untuk ditinggali. Orang-orangnya juga baik banget. Yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah. Yang menurut kita buruk, belum tentu buruk di mata Allah. Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak.
Saya memutuskan untuk bertahan beberapa bulan lagi lah disini. Mungkin ikut pindah ke gang sebelah, karena kamar disini kecil. hehehe
Sekian cerita dari ophie. Selalu ada hikmah dari setiap kegundahan yang kita alami.
Wassalam..