Showing posts with label Tarakan. Show all posts

Berhenti di depan stop line? Ente bukan anak Tarakan!


posted by Redblack Ophie on , , ,

No comments

Teman-teman pembaca, pasti kita tidak asing dengan pemandangan ini?





Foto di atas kuambil saat berhenti di perempatan Raya Darmo - Polisi Istimewa, Surabaya. Selama dua tahun lebih kuliah di kota pahlawan ini, aku sudah biasa melihat orang-orang berhenti di depan garis putih lampu lalu lintas. Awalnya ini cukup asing dan cukup membuatku mengomel dalam hati. Namun lama kelamaan kebiasaan orang kota ini menular padaku. Mungkin karena keadaan yang sangat macet dan tujuan perjalanan yang jauh membuat malas untuk mengantri di belakang. Belum lagi tangan-tangan pengendara yang hobi memainkan klakson --'.


Namun semua berubah ketika aku kembali ke kota kelahiranku, Tarakan. Setiap liburan semester kusempatkan pulang kampung untuk bertemu keluarga dan teman-teman disana. Yah begitulah... Rasanya 'nyesek' setelah apa kebiasaan yang sudah kuserap dari kota perantauan. Di kota kelahiranku tak pernah ada yang berhenti di depan stop line lampu lalu lintas. Damai rasanya kembali menikmati suasana disiplin dan tentu tanpa nada-nada falesnya klakson. Sungguh diri ini malu ketika sadar pernah meninggalkan budaya kota ini yang disiplin.

Kutampilkan foto kotaku yg BAIS (Bersih Aman Indah Sejahtera). Betapa bangganya aku dengan kesadaran masyarakatnya yang disiplin :').


Gambar di atas bukan kebetulan, tapi memang sehari-harinya masyarakat disana tidak pernah berhenti melewati garis putih di lampu merah. Foto ini diambil oleh salah seorang teman sangat dekat denganku, karena aku sedang tidak bisa mengambil foto langsung ke kota kelahiranku itu.  Terima kasih ya abang, telah dengan ikhlas memotretkan momen berharga yang bisa dijadikan pelajaran buat kita semua.

Betapa kumerindukan suasana damai dan tenang disana. Namun aku harus kembali ke kota perantauan sampai kuliahku selesai. Semoga aku tetap bisa membawa budaya kota kelahiranku yang sadar akan kedisiplinan lalu lintas.

Buat teman-teman lain, teman seperjuanganku di Tarakan yang sekarang sedang merantau di kota besar, dan melihat budaya yang menyimpang di kota itu, saya pesan jangan sampai kita pulang ke kota kelahiran kita dengan membawa kebiasaan yang buruk, ambil yang baik-baik saja ya. 

Setelah melihat kejadian ini, apakah ketika semakin besar kota semakin hilang kesadaran masyarakatnya? Tanya kenapa? Tanya ke siapa?

Aku dan Tarakanku (Part 1) :D


posted by Redblack Ophie on ,

No comments

Suasana malam yang sangat jarang kurasakan, adalah seperti ini ketika hanya terdiam di depan laptop karena tidak ada due date tugas buat besok. hehe


Ada hal yang sangat ingin aku dokumentasikan, ialah banyak perbedaan kebiasaan baik ucapan, perilaku, ungkapan, selera, makanan yang kutemukan, antara aku yang dari lahir sampai lulus SMA tinggal di kota Paguntaka alias Tarakan, dengan orang-orang yang ada di sekitarku ini (Surabaya) sejak hampir dua tahun yang lalu.

Logat bahasaku yang mungkin 'aneh' bagi mereka dan seringkali menjadi bahan tertawa karena ke-aneh-an yang sepertinya tabu di telinga mereka. Tapi dengan begitu aku akan lebih mudah diingat dan dikenali oleh mereka. hehe

Ada banyak kata yang membuat mereka bertanya apa maksudnya, apa sebenarnya yang aku bicarakan. Kira-kira ini kata-katanya :
"bah"
"nah"
"lah"
"kah"
"kasih mati, kasih hidup, kasih besar, kasih kecil,....."
"kau"
"tu nah"
"tu lah"
"ya lha tu"
"besar betul, kecil betul, jauh betul, ......."
"laju"
"turun"
Kira-kira itu yang aku ingat. Nanti kalau ada lagi, bakal aku posting lagi "kata2" yang tabu di telinga mereka di blog ini hehe.

Tarakan, I’m Coming!


posted by Sovie Putri Surya on , ,

No comments

Akhirnya setelah lebaran tahun lalu, aku balik lagi ke kota kecil yang Bersih, Aman, Indah, dan Sejahtera (baca: Tarakan) ini. Liburan semester ganjil tiba dan tidak ada alasan untuk tidak pulang kampung, berkumpul dengan keluarga disini, teman-teman, dan tentu saja dia ;). Awalnya hasil nilai semester menghalangiku untuk segera pulang, karena bisa saja sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Namun menunggu hal yang tidak pasti kapan keluarnya membuatku semakin terpuruk disana (baca: Surabaya).

Read more »